PANDANGAN HIDUP SEORANG MUSLIM

Mutiara Ar-Risalah 3 Januari 2014

Setelah seseorang melafalkan dua kalimat syahadat, meyakini tidak ada Ilah kecuali Allah SWT., dan menyakini bahwa Nabi Muhammad SAW. Adalah utusan Allah SWT, maka kewajiban selanjutnya bagi dirinya adalah menjalankan syari’at Islam secara menyeluruh.
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu sekalian semuanya kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syetan, karena syetan itu bagi kalian adalah musuh yang nyata”. (Q.S. al-Baqarah,2:208). Dalam ayat di atas Allah SWT memerintahkan kepada kita agar masuk ke dalam Dien Islam secara menyeluruh, karna hanya dien Islam-lah yang diridhoi oleh Allah SWT., “sesungguhnya dien di sisi Allah adalah Islam”. (Q.S. Ali Imran,3:19) “Siapa orang yang mencari dien lain selain Islam, maka tidak akan diterima dien itu daripadanya” (Q.S. Ali Imran,3:85) Dien, dalam bahasa kita, sering diterjemahkan dengan kata “Agama”, namun pemahaman masyarakat kita pada umumnya, memahami agama itu hanya mencangkup aturan-aturan ritual saja, seperti shalat, shaum atau puasa, berdo’a, haji, dan lainnya. Namun, sebenarnya dien itu memiliki arti “nidzamul hayah”, aturan-aturan hidup, atau pandangan hidup.
Oleh sebab itu, Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual saja, namun juga mengatur masalah-masalah lain, seperti politik (syiasah), ekonomi (iqtishad), hukum waris (faraid), hukum perdata, hukum pidana, dan permsalahan lain yang menyangkut kehidupan manusia, karna Islam adalah Dien yang telah disempurnakan dan di ridhoi oleh Allah SWT.,
“Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu dien-mu , dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-ku, dan telah ku ridhoi Islam itu jadi dienmu”
(Q.S. Ali Imran,3:3).
Maka, adalah haram bagi kita bila mencari ideologi lain selain Islam atau mencampurkan ideology lain dengan islam untuk menjadi pandangan hidup kita.
Seperti mencampurkan liberalism dengan islam dan menjadikannya dien baru menjadi Islam liberal, itu adalah sebuah kebatilan, karna menganggap Islam itu belum sempurna sehingga menambahkannya dengan liberalisme.
Dan juga haram bagi kita, mengikuti milah dari dien lain, karna dapat menjadikan kita termasuk pada golongan dien tersebut,
“Siapa orang yang mengikuti suatu kaum, maka orang tersebut adalah bagian dari golongan tersebut”.
(HR. Abu Dawud dari Abdulah bin Umar RA)
Millah bisa bermakna syari’at atau bisa juga bermakna aturan yang dianut, seperti tata cara ibadah, kebudayaan, dan yang lainnya, termasuk perayaan-perayaan hari besar.
Aturan yang dianut, misalnya khurafat, takhayul, dan bid’ah.
Khurafat dalam kamus munawir, diartikan dengan kepercayaan yang tidak masuk akal.
Contoh konkrit yang terjadi di masyarakat seperti apabila ada kupu-kupu masuk rumah pertanda akan ada tamu, mimpi bepergian pertanda panjang umur,dsb.
Takhayul, takhayul berasal dari kata khayal, atau dalam bahasa Indonesia berarti khayalan. Seperti keyakinan pada setan-setan tertentu, genderuwo, kuntilanak, pocong, nyi roro kidul, dsb.
Bid’ah, adalah membuat aturan baru dalam hal ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
“Siapa orang yang mengada-adakan dalam urusan agama bukan berasal daripadaku, maka amalannya tersebut tertolak”
(HR Bukhari dari ‘Aisyah RA).
Contoh bid’ah di masyarakat yang masih terjadi adalah perayaan 40 hari kematian seseorang dengan mengadakan yasinan, tahlilan di rumah keluarga yang meninggal, dan yang lainnya.
Adapun Contoh perayaan besar, misalnya contoh konkrit yang terjadi di masyarakat kita beberapa hari lalu, ketika terjadi pergantian tahun baru masehi, banyak umat islam yang merayakannya, dengan berbagai cara, meniup terompet, menyalakan kembang api, berhura-hura dan sebagainya.
Contoh lainnya dari perayaan besar, misalnya perayaan tanggal 14 februari oleh kalangan remaja, atau yang biasa di sebut valentine days, atau hari kasih sayang, yang ironinya menjadi ajang perzinahan dengan menafsirkan memberikan hadiah spesial dari remaja putri kepada pacarnya, naudzubillah.
Maka agar kita dapat membedakan mana aturan Islam dan mana aturan selain Islam (thagut) kita di tuntut untuk terus mengkaji Al-Quran dan As-Sunnah agar hidup kita terus terbimbing dan tidak melenceng.
-Kang Jalma-
Dari berbagai sumber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILMU TERBAGI MENJADI DUA (ILMU DHARURI DAN ILMU NAZHARI)

mati karena sesuai dengan kebiasaannya