Postingan

TINGKATAN TINGKATAN KEHIDUPAN MANUSIA

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (QS AL-Baqarah 28). Lima Tingkatan Kehidupan Manusia 1. Kehidupan kita saat ini di dunia yang dibatasi oleh banyak ikatan وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ  أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang- orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS al-An’am 32). 2. Kehidupan Nabi Khidir as dan Nabi Ilyas as Kehidupan mereka relatif tidak terikat, artinya mereka bisa berada di banyak tempat dalam satu waktu serta bisa makan dan minum kapan mereka mau. Mereka tidak ...

KISAH KERINDUAN KEPADA RASULULLAH

Seorang budak bernama Tsauban sangat menyayangi dan hatinya selalu merindukan Rasulullah Muhammad SAW. Sehari saja tidak bertemu Nabi, rasanya seperti setahun baginya. Kalau bisa dia ingin bersama Rasul setiap waktu. Karena jika tidak bertemu Rasulullah, dia amat sedih, murung dan seringkali menangis. Demikian juga yang dilakukan Rasulullah terhadap Tsauban begitu mengetahui betapa besarnya kasih sayang Tsauban terhadap dirinya. Suatu hari Tsauban berjumpa Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, saya sebenarnya tidak sakit, saya sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu denganmu walaupun sekejap. Jika sudah bertemu barulah hatiku menjadi tenang dan gembira sekali. Apabila memikirkan akhirat, hati ini bertambah cemas dan takut kalau-kalau tidak dapat bersama denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di syurga yang tinggi. Sedangkan saya belum tentu, entah di syurga paling bawah atau yang paling mencemaskan, kemungkinan tidak dimasukkan ke syurga langsung. Jika demikian, tentu saya ti...

Mutiara Hadits 4 Kitab Rahasia Shalat bab I Adzan

Bersabda Nabi Saw: "Apabila Kamu Mendengar Seruan Adzan, Maka Ucapkanlah Apa Yang Diucapkan Oleh Muadzin Itu". Mengucapkan Yang Demikian Itu Adalah Sunat, Kecuali Mengenai: "Hayya 'Alash‑Shalaah" Dan "Hayya 'Alal‑Falaah" Maka Diucapkan Pada Yang Dua Ini Ialah: "Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah" (Tiada Daya Dan Kekuatan Kecuali Dengan Pertolongan Allah). Dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin.” [Shahih Bukhari] Dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika muadzin mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Maka hendaklah salah seorang di antara kalian (juga) mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.’ Kemud...

Amalan Sunah Sebelum Tidur

Berdasarkan Hadits Shahih Yang jelas-jelas disunahkan sebelum tidur berdasarkan Hadits Shahih dalam Kitab Hadits Bukhari dan Muslim adalah sebagai berikut: 1. Berwudhu atau tidur dalam keadaan suci (punya wudhu). 2. Tidur berbaring pada sisi kanan. “Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710). 3. Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat Al-Ikhlash, Al Falaq, dan An-Naas masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau  sebanyak tiga kali. “Nabi Saw ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (QS Al-Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (QS Al-Falaq), dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (QS An-Naas). Lalu beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh ...

Ta'rif Al Insan

[8:36 26/10/2017] Rizky Ramadhan: Manusia terbuat dari 1. Tanah Allah SWT berfirman: الَّذِيْۤ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهٗ وَبَدَاَ خَلْقَ الْاِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ allaziii ahsana kulla syai`in kholaqohuu wa bada`a kholqol-insaani min thiin "yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah," (QS. As-Sajdah 32: Ayat 7) 2. Ruh Allah SWT berfirman: ثُمَّ سَوّٰٮهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْــئِدَةَ     ۗ  قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ summa sawwaahu wa nafakho fiihi mir ruuhihii wa ja'ala lakumus-sam'a wal-abshooro wal-af`idah, qoliilam maa tasykuruun "Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur." (QS. As-Sajdah 32: Ayat 9) * Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com [8:44 26/10/2017] Rizky Ram...

Mutiara Hadits 3 Kitab Rahasia Shalat bab I Adzan

Bersabda Nabi Saw: “Tangan Rabb Yang Maha Pengasih Itu Di Atas Kepala Muadzin (Orang Yang Beradzan), Sehingga Selesailah Ia Daripada Adzannya”. Ada Yang Mengatakan Mengenai Penafsiran Firman Allah 'Azza Wa Jalla "Siapa Yang Lebih Baik Perkataannya Dari Orang Yang Memanggil Kepada Tuhan Dan Mengerjakan Perbuatan Baik"  Bahwa Ayat Ini Turun Mengenai Orang‑Orang Muadzin. artinya dia sendiri menjalankan apa yang dikatakannya, maka manfaaatnya untuk dirinya sendiri dan orang lain. Dia bukan termasuk orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf akan tetapi dia sendiri mengerjakannya. Serta melarang dari kemungkaran akan tetapi dia sendiri mengerjakannyha. Akan tetapi ia adalah orang yang melaksanakan kebaikan, meninggalkan keburukan dan menyeru manusia kepada kebaikan yang menyeru manusia kepada kebaikan dan dia sendiri melaksanakannya. Rasulullah saw. adalah manusia yang lebih utama dalam masalah ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad bin Sirin, as-Suddi dan...

Kisah Ashabul Aikah

Kaum Yang Dihujani Api Meskipun sudah dikarunia tanah yang subur dan hidup makmur, namun kaum Madyan enggan menyembah Allah SWT. Nabi Syu'aib pun juga telah mengingatkan, tapi mereka lebih memilih menyembah pohon besar. Akibatnya, azab Allah berupa hujan api datang menimpa mereka. Kisahnya. Kisah ini dicuplik dari Ayat Al Qur'an Surat At-Taubah ayat 70. أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ Artinya: Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, Maka Allah tidaklah sekali-kali Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya d...