Postingan

Ketika Ku Futur

----- Ketika ku futur, aku membayangkan akan ada teman-teman yang menasehatiku, mereka akan begitu intens menasehati agar aku kembali ke jalan-Nya. Namun, kenyataan ternyata tidak demikian, terkadang mereka tidak mengetahui diriku futur, pun ketika mereka tahu, mereka menasehatiku sesekali saja. Kecewa? mungkin iya. Aku pun mencoba merenungkan mengapa hal ini bisa terjadi, dan kudapatkan jawabannya. Ketika ku futur, aku lebih mudah menyalahkan orang lain, menyalahkan teman-teman yang tidak mengajakku kembali daripada menyalahkan diriku sendiri. Padahal, tidaklah futur terjadi karena kesalahan dan dosaku sendiri. Di samping itu, teman-temanku tidak senantiasa bisa menemaniku, mereka tidak meninggalkanku, hanya saja mereka memang tidak tahu. Ketika ku futur, ku berharap teman-teman menasehatiku, namun ketika mereka menasehatiku, aku pun bebal dan tidak melaksanakan nasehat itu. Aku seakan-akan menantang nasehat mereka, maka sungguh tak salah jika mereka pun berhenti menasehati. Kewa...

TIDAK BOLEH KELUAR MASJID SETELAH ADZAN BERKUMANDANG

📚 Pelajaran Fiqih 📖 Salah satu etika ketika sudah berada di dalam masjid yaitu tidak keluar masjid setelah adzan, kecuali ada uzur yang mengharuskan keluar masjid. Diriwayatkan dari Utsman bin Affan ra, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barang siapa yang kedatangan azan di masjid kemudian keluar untuk suatu keperluan tanpa berkeinginan untuk kembali, dia orang munafik’.” (HR. Ibnu Majah) Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan: عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ قَالَ : كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ ، فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي ، فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ ، فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ : (أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Dari Abu Asy Sya’tsa, ia berkata: “Ketika itu kami sedang duduk-duduk di masjid bersama Abu Hurairah. Kemudian muadzin pun beradzan. Ada seorang lelaki berdiri berjalan. Maka Abu Hurairah tida...

*Kadar Iman dan Mengenal Malaikat (2)*

📚 Syarah Ushulul Iman 📖 Beriman kepada Malaikat Iman kepada Malaikat mencakup empat hal: 1.  Mengimani wujud (keberadaan) mereka. 2.  Mengimani mereka yang kita kenali namanamanya, seperti Jibril, dan juga mengimani secara global Malaikat yang tidak kita kenal nama-namanya. 3.  Mengimani sifat-sifat mereka yang kita kenali, seperti sifat bentuk Jibril, sebagaimana yang pernah dilihat Nabi  🁲, ia memiliki 600 sayap yang menutupi  ufuk. Malaikat bisa saja menjelma menyerupai seorang laki-laki, seperti yang pernah terjadi pada Malaikat Jibril tatkala Allah  🁉  mengutusnya kepada Maryam. Jibril menjelma jadi seorang manusia yang sempurna. Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi  🁲, sewaktu beliau sedang duduk di tengahtengah para sahabatnya. Jibril datang dengan bentuk seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat tanda-tanda dia baru saja melakukan perjalanan jauh, namun tidak seorangpun...

Kisah Nabi Adam (26)

📚 Materi Shahih Kisah Para Nabi 📖 *Tempat Adam dan Hawa Diturunkan* Sementara mengenai tempat di mana Adam diturunkan, tidak ada keterangannya sama sekali dalam al-Quran. Dan kami juga tidak menjumpai adanya hadis shahih yang menyebutkan hal ini. Memang ada beberapa hadis yang menyebutkan tempat turunnya Adam di Bumi, namun statusnya dhaif. Seperti hadis, ﻧﺰﻝ ﺁﺩﻡ ﺍﻟﻬﻨﺪ ﻭﺍﺳﺘﻮﺣﺶ Adam turun di India dan beliau merasa asing. Hadis ini diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damaskun (7/437), dan statusnya dhaif. Sebagaimana keterangan dalam as-Silsilah ad-Daifah. Hanya saja, ada beberapa keterangan para ulama mengenai tempat turunnya Nabi Adam. Namun karena tidak didukung dalil, keterangan mereka beraneka ragam. Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan sekitar 4 pendapat mengenai hal ini, 1. Adam diturunkan di India, sedangkan Hawa diturunkan di Jedah. Ini pendapat Hasan al-Bashri 2. Adam dan Hawa keduanya diturunkan di India. 3. Adam diturunkan di satu daerah namanya Dahna, an...

Sabda Nabi : “Saya adalah orang yang paling tahu tentang Allah”

📚 Syarah Shahih AlBukhari Kitabul Iman 📖 Bab 13 . Dan sesungguhnya ma’rifat adalah perbuatan hati, berdasarkan Firman Allah   : “tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu”.(QS. Al Baqoroh (2) : 225)  Penjelasan : Kaitannya dengan bab Iman adalah bahwa perbuatan hati yaitu pembenaran terhadap keimanan kepada Allah termasuk hal dasar yang harus dimiliki oleh seorang Mukmin. Dan tentunya Rosulullah Shollallohu 'Alaihi wa Sallam adalah Mukmin yang paling utama dimuka bumi, sehingga Beliau adalah orang yang paling mengenal Robbnya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Syaikh As-Sa’di berkata dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat ini : “Allah tidak menghukum apa yang diucapkan lisan-lisan kalian tentang sumpah secara nyata yang mana seorang hamba tidak memaksudkannya secara sengaja dalam hatinya. Namun semua itu adalah sekedar ucapan yang biasa dilakukan seperti ucapan seseorang didalam menawar harga “tidak demi Allah” atau “Iya...

Bab: Keikhlasan dan Menghadirkan Niat dalam Segala Perbuatan, Ucapan dan Keadaan yang Nyata dan yang Samar

*Kajian Hadis* Oleh. Ridwan Nulloh Allah Ta'ala berfirman:  ‏ وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة، ويؤتوا الزكاة، وذلك دين القيمة "Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya sama menyembah Allah, dengan tulus ikhlas menjalankan agama untuk-Nya semata-mata, berdiri lurus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat dan yang sedemikian itulah agama yang benar." (al-Bayyinah: 5) *Hadis ke 1* وعن أمير ال...

Solusi Bagi Yang Belum Mampu Menikah

kehidupan dan bagian dari syariatnya. Barangsiapa berpaling dari pernikahan dan meninggalkannya tanpa alasan maka dia meninggalkan bagian dari agama, oleh karena itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajak anak-anak muda menikah, “Wahai para pemuda, barangsiapa dari kalian mampu memberi nafkah maka hendaknya dia menikah karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena ia adalah kendali baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas menetapkan tujuan agama dari pernikahan. Pertama: Membuat manusia menundukkan pandangan sehingga mereka tidak melihat kepada yang haram. Kedua: Menikah adalah sarana untuk menjaga manusia sehingga tidak terjerumus ke dalam zina. Hanya saja walaupun Islam mendorong menikah, hal tersebut tidak berarti secara mutlak, akan tetapi ia terkait dengan syarat adanya kemungkinan-kemungkinan untuk menun...