Al baqarah 207: keislaman butuh pengorbanan - suhaib Ar Rumy
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(al baqarah 207)
(Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya), artinya mengorbankannya demi taatnya kepada Allah (guna menuntut) atau mencari (keridaan Allah). Namanya ialah Shuhaib. Tatkala ia dianiaya oleh orang-orang musyrik, ia pun berhijrah ke Madinah dan ditinggalkannya bagi mereka harta bendanya (dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya), sehingga ditunjuki-Nya mereka kepada hal-hal yang diridai-Nya. (tafsir jalalayn}
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(al baqarah 207)
(Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya), artinya mengorbankannya demi taatnya kepada Allah (guna menuntut) atau mencari (keridaan Allah). Namanya ialah Shuhaib. Tatkala ia dianiaya oleh orang-orang musyrik, ia pun berhijrah ke Madinah dan ditinggalkannya bagi mereka harta bendanya (dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya), sehingga ditunjuki-Nya mereka kepada hal-hal yang diridai-Nya. (tafsir jalalayn}
Suhaib ar-Rumi Radhiallahu ‘Anhu
Suhaib ar-Rumi radhiallahu ‘anhu adalah salah seorang di antara sahabat senior Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang mungkin tidak dikenal oleh banyak kaum muslimin. Ia merupakan
as-sabiquna-l awwalun (orang-orang yang pertama memeluk Islam). Saat
jumlah kaum muslimin masih sekitar 30-an orang, Suhaib telah menyatakan
keislamannya di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan takut akan ancaman kafir Quraisy Mekah.
kisah pilunya sebagai budak membawanya kepada suatu hikmah yang tidak dia sangka-sangka. Seorang penjual budak menjualnya kepada salah satu orang kaya Mekah, namanya Abdullah bin Jad’an. Beberapa lama bersama tuan barunya tersebut, Suhaib memperlihatkan kualitas diri yang menunjukkan dia tidak layak menjadi seorang budak. Ia memiliki kecerdasan, etos kerja yang tinggi, dan ketulusan hati. Lalu Abdullah bin Jad’an pun membebaskan Suhaib ar-Rumi, dan berubahlah statusnya dari seorang budak menjadi orang merdeka. Setelah merdeka, Suhaib memulai jalan hidupnya di Mekah sebagai pedagang sehingga ia menjadi salah seorang pedangang yang sukses di Ummul Qura tersebut.
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang terdahulu lagi yang
pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun
ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang
mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di
dalamnya itulah kemenangan yang besar [QS At Taubah : 100]
Latar Belakang
Suhaib adalah anak dari salah seorang hakim di
wilayah dekat Bashrah. Saat orang-orang Romawi menyerang daerah
tersebut, Suhaib pun menjadi seorang budak Romawi. Ia tumbuh besar di
wilayah Romawi tersebut, karena itulah ia dipanggil Suhaib ar-Rumi.
Nama aslinya adalah Suhaib bin Sinan bin Malik, kun-yahnya Abu Yahya.
kisah pilunya sebagai budak membawanya kepada suatu hikmah yang tidak dia sangka-sangka. Seorang penjual budak menjualnya kepada salah satu orang kaya Mekah, namanya Abdullah bin Jad’an. Beberapa lama bersama tuan barunya tersebut, Suhaib memperlihatkan kualitas diri yang menunjukkan dia tidak layak menjadi seorang budak. Ia memiliki kecerdasan, etos kerja yang tinggi, dan ketulusan hati. Lalu Abdullah bin Jad’an pun membebaskan Suhaib ar-Rumi, dan berubahlah statusnya dari seorang budak menjadi orang merdeka. Setelah merdeka, Suhaib memulai jalan hidupnya di Mekah sebagai pedagang sehingga ia menjadi salah seorang pedangang yang sukses di Ummul Qura tersebut.
Memeluk Islam
Ammar bin Yasir mengisahkan:
Aku berjumpa dengan Suhaib bin Sinan di depan pintu rumah al-Arqam, saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
berada di dalam rumah itu. Aku berkata kepada Suhaib, “Apa yang kau
inginkan?” Namun Suhaib malah balik bertanya, “Kamu juga, apa yang kau
inginkan?” Lalu kujawab, “Aku ingin masuk ke dalam rumah ini menemui
Muhammad, lalu mendengarkan apa yang ia sampaikan.” Kata Suhaib, “Aku
juga menginginkan hal yang sama.”
Ammar melanjutkan, “Kami berdua pun masuk ke
dalam rumah al-Arqm, lalu menyatakan keislaman kami. Lalu kami berdiam
di rumah hingga tiba sore hari, kemudian keluar dari rumah dalam keadaan
takut.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
السباق أربعة: أنا سابق العرب، وصهيب سابق الروم، وبلال سابق الحبشة، وسلمان سابق الفرس
“Empat orang pendahulu: Aku adalah yang paling
awal dari kalangan Arab, Suhaib paling awal dari kalangan Romawi, Bilal
paling awal dari orang-orang Habasyah, dan Salman yang paling awal dari
orang Persia.”
Kedudukan Suhaib
Salah satu peristiwa yang paling terkenal dan sangat mengagumkan dari perjalanan hidup Suhaib adalah kisah hijrahnya beliau radhiallahu ‘anhu.
Sebagaimana telah disebutkan, Suhaib adalah seorang yang tidak memiliki
apa-apa, lalu datang ke Mekah dan menjadi salah seorang pedagang yang
kaya. Lalu datanglah panggilan hijrah, dan Suhaib pun menyambut
panggilan tersebut.
Saat dalam perjalanan dari Mekah menuju
Madinah, Suhaib dicegat oleh orang-orang Mekah. “Wahai Suhaib, engkau
datang kepada kami dalam keadaan miskin dan hina, kemudian hartamu
menjadi banyak setelah tinggal di daerah kami. Setelah itu terjadilah di
antara kita apa yang terjadi (perselisihan karena Islam). Engkau boleh
pergi, tapi tidak dengan semua hartamu.” Suhaib pun meninggalkan
hartanya tanpa ia pedulikan sedikit pun.
Kemudian sampailah Suhaib di Madinah, lau ia berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang langsung mengucapkan,
ربح البيع أبا يحيى.. ربح البيع أبا يحيى
“Perdagangan yang amat menguntungkan wahai Abu Yahya, perdagangan yang amat menguntungkan wahai Abu Yahya.”
Suhaib berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang melihat apa yang kualami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jibril yang memberi tahuku.”
Lalu turunlah ayat,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang
mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha
Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)
Suhaib dikenal sebagai seorang sahabat yang
sangat dermawan dan sangat suka memberi orang-orang miskin makan. Saking
rajinnya Suhaib dalam bersedakah, sampai-sampai Umar bin Khattab
menganggapnya mubadzir (karena sedekah tidak tepat sasaran .pen).
Kata Umar, “Wahai Suhaib, aku tidak melihat kekurangan pada dirimu
kecuali dalam tiga hal: (1) Engkau menisbatkan diri sebagai orang Arab,
padahal logatmu logat Romawi, (2) engkau berkun-yah dengan nama Nabi,
(3) dan engkau orang yang mubadzir.” Suhaib menanggapi, “Aku seorang
yang mubadzir? Tidaklah aku berinfak kecuali dalam kebenaran. Adapun
kun-yahku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
sendiri yang memberinya. Dan logatku logat Romawi, karena sejak kecil
aku ditawan orang-orang Romawi. Sehingga logat mereka sangat berpengaruh
padaku.” Saat Umar wafat, beliau mewasiatkan agar Suhaib yang menjadi
imam shalat jenazahnya.
Ia juga selalu turut serta dalam peperangan yang diikuti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Wafatnya
Suhaib wafat di Kota Madinah pada bulan Syawal
tahun 38 H. Saat itu usia beliau 70 tahun. Semoga Allah Ta’ala meridhai
beliau dan menempatkannya di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan.
Penutup
Kisah awal perjalanan hidup Suhaib radhiallahu ‘anhu sama halnya dengan apa yang terjadi dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam.
Beliau awalnya orang yang merdeka, lalu dijadikan budak dan dijual
kepada salah seorang pembesar di negeri Mesir sampai akhirnya menjadi
pemimpin di negeri tersebut.
Dari sini dapat kita petik pelajaran, terkadang
Allah menimpakan sebuah musibah kepada kita, namun musibah tersebut
adalah jalan yang harus kita lalui menjadi orang yang lebih baik atau
bahkan orang yang hebat. Nabi Yusuf tidak akan menjadi pembesar di
negeri Mesir seandainya beliau tidak menempuh perjalanan hidup menjadi
seorang yang disisihkan saudaranya. Suhaib tidak akan mulia menjadi
seorang muslim dan sahabat Rasulullah, jika ia tidak menempuh perjalanan
hidup menjadi budak yang mengatarkannya ke Mekah hingga bertemu dengan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar