HENDAKLAH KAMU MENIADAKAN DIRI UNTUK MEWUJUDKAN SESUATU"


"

Diceritakan pada suatu hari, sejumlah alumni pesantren Persis Bandung datang untuk bersilaturahim ke kediamanya KH.E.Abdurrahman di Gang Hassan 2 (Kini menjadi kantor redaksi majalah Risalah). Rombongan alumni itu diketuai oleh Endang Saifudin Anshary (Putra KH.M. Isa Anshary).

Dihadapan para alumni, Ustadz Abdurrahman terlihat menangis kemudian beliau menyampaikan nasihatnya kepada para alumni secara terbata-bata, meski tampak beliau tetap berusaha tegar. "Hakikatnya, kita ini hidup antar mengantarkan". Demikian Ustadz Abdurrahman, terbata-bata, wajahnya yang teduh memerah, dan air matanya menetes.

Dulu saya diantarkan guru-guru saya. Kini, saya mengantarkan kalian, dan kalianpun harus mengantarkan murid-murid kalian, dan begitulah seterusnya, kata Ustadz Abdurrahman.

Kita memahami bahwa nasihat itu agar lulusan muallimin terus bergerak dalam pendidikan, sampai anak didiknya menjadi guru, kemudian punya murid, lalu muridnya menjadi guru, punya murid dan begitulah seterusnya sehingga perjuangan Persis berkesinambungan dari generasi ke generasi.

Pada kesempatan itu pula beliau (Ustadz Abdurrahman) mengungkapkan bahwa kemenangan A. Hassan dalam berdebat dengan Ahmadiyah, adalah ternyata hasil kerjasama antara guru dengan murid, dengan " arsitek " pemikiranya Ustadz Abdurrahman sendiri.

Setiap malam saya ditugasi memeriksa buku ini dan buku itu, pagi-pagi barulah A. Hassan datang mengambil catatan yang saya susun, kata Ustadz Abdurrahman.

Ketika Ahmadiyah "keok" dalam perdebatan final dengan A. Hassan, nama Ustadz Abdurrahman tidak ada dan tak disebut-sebut. Nama yang dikenal malah A. Hassan.

Seketika itu juga A.Hassan menasihati Ustadz Abdurrahman dengan nasihat "Hendaklah kamu meniadakan diri untuk mewujudkan sesuatu." Nasihat itu dimaksudkan, biarkan nama tak ada, tak disebut-sebut, tetapi sesuatu ada dan nyata. Faham Ahmadiyah terbukti sesat dan menyesatkan.

"Saya anggap nasihat itu jadi obat, saya jadi banyak tahu isi kitab-kitab yang saya tak ketahui sebelumnya." kata Ustadz Abdurrahman.

Kita menangkap makna, Ustadz Abdurrahman menasihati alumni muallimin agar berjuang dengan ikhlas, tanpa harus menyoal penggagas, dan berjuang bukan untuk mencari popularitas semata.

Nasihat A.Hassan itu kemudian dipraktekan Ustadz Abdurrahman kepada salah satu muridnya yaitu KH. Muh. Syarif Sukandi. Ustadz Andi, demikian KH. Muh. Syarif sukandi itu biasa dipanggil. Beliau termasuk murid yang pandai mengarang (dengan bahasa sunda). Tulisanya selalu dimuat di majalah Persis kala itu seperti majalah At-Taqwa. Tulisan Ustadz Andi selalu mendapat pujian dari Ustadz Abdurrahman.

Namun, ketika karangan Ustadz Andi dimuat, namanya tak ada, yang ada hanya nama E.Abdurrahman. Ini berlangsung beberapa kali. Ustadz Andi sang murid, sangat penasaran, lalu bertanya kepada ust Abdurrahman.

"Tah kitu ari berjuang mah, ngaran teu kudu sohor." jawab Ustadz Abdurrahman kepada Ustadz Andi yang memang amat fasih dalam berbahasa sunda yang baik dan benar. Begitulah cara berjuang nama tak perlu dikenal.

Kita harus mampu menghilangkan diri, ini bermakna bahwa demi hidupnya pemikiran dan perjuangan dalam mempertahankan dan menegakkan jam'iyyah diperlukan keikhlasan dan keberanian melepaskan kepentingan pribadi untuk kepentingan jam'iyyah. Selain tidak membanggakan diri terhadap jasa dan kebaikan; semuanya harus dilakukan semata-mata hanyalah karena Allah.

Selamat membaca mudah-mudahan saja ada manfaatnya.

Sumber catatan : Akhbarul Jam'iyyah dan Pedoman Panduan hidup berjama'ah dalm Jam'iyyah Persis.(esa).

KH.E.Abdurrahman Allohu yarham.
Selama 62 tahun usia beliau dihabiskan untuk Da'wah dan Tarbiyah,usia 7 tahun khatam Quran, usia 11 tahun jadi ustadz NU di Al-Ianah Bandung,usia 15 tahun setelah kalah debat dengan A.Hasan bergabung dengan Persis,dan 35 tahun jadi ketua Persis serta mengelola Pesantren Persis Pajagalan Bandung,serta pada usia 71 tahun Kamis, serta 21 April 1983 wafat.Semoga amal jihad beliau diterima Alloh yang rahman dan rahim.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILMU TERBAGI MENJADI DUA (ILMU DHARURI DAN ILMU NAZHARI)

mati karena sesuai dengan kebiasaannya

Faidzaa faraghta fanshob wailaa rabbika farghob...